Forum LPJKD Kalimantan Barat
Terima kasih.....

Tunggu beberapa saat, proses login sedang berjalan....

JEBOLNYA SITU GINTUNG : VOLUME AIR MELEBIHI DAYA TAMPUNG

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

280309

Post 

JEBOLNYA SITU GINTUNG : VOLUME AIR MELEBIHI DAYA TAMPUNG




JEBOLNYA SITU GINTUNG : VOLUME AIR MELEBIHI DAYA TAMPUNG



Dirjen Sumber Daya Air Departemen PU Iwan Nursyirwan mengatakan bahwa jebolnya saluran pelimpah (spillway) Situ Gintung di Cirendeu, Ciputat akibat dari volume air yang terlalu besar akibat hujan deras yang mengguyur daerah tersebut sejak sore hari hingga malam. “Hujan deras turun sejak pukul 4 sore hingga malam di daerah Bogor, aliran air masuk ke bendungan melalui anak Kali Pesanggrahan dan tidak mampu lagi ditampung hingga terjadilah overflow (limpas). Air yang ada melebihi kemampuan spillway dan jebol sehingga mengakibatkan 1,5 juta meter kubik air hanyut sekaligus seperti banjir bandang” jelas Iwan Nursyirwan di Jakarta (27/3).

Iwan mengatakan bahwa tidak ada faktor human error maupun kerusakan bendungan dalam musibah ini, tetapi lebih kepada volume air yang datang melebihi kapasitas rencana daya tampung Situ Gintung.

Pihaknya juga akan memperbaharui data-data curah hujan setelah terjadinya perubahan iklim global karena terkait dengan daya tampung bendungan saat ini. “Data-data yang digunakan untuk mendesain bendungan merupakan data-data dengan curah hujan normal. Data yang dipakai tahun 1910-1960-an, pada saat itu ritme hujan masih jelas. Dengan adanya climate change maka curah hujan berubah drastis dan berpengaruh terhadap kemampuan bendungan, disamping adanya perubahan lingkungan seperti banyaknya permukiman.” kata Iwan.

Awalnya Situ Gintung merupakan bendungan yang dibangun Belanda untuk mengairi persawahan. Setelah sawah berubah menjadi permukiman, fungsi Situ Gintung pun menjadi daerah konsevasi. Padatnya permukiman bahkan memenuhi bantaran sungai yang selama ini berfungsi untuk mengalirkan air buangan dari saluran pengelak (spillway).

Kedepan semua bendungan tipe kecil juga akan dikontrol lebih ketat lagi terutama yang berada didekat permukiman. “Ini merupakan tipe kecil meskipun secara rutin sudah dipelihara, kedepan informasi lebih detilnya juga kita akan periksa. Kalau yang besar memang kita kontrol setiap tahun keamanannya karena ada Balai Keamanan Bendungan. (gt)

sumber : pu.go.id

dayat
Kepala Tukang
Kepala Tukang

Male Jumlah posting : 283
Lokasi : Pontianak
Points : 367
Reputation : 14
Registration date : 02.10.08

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

- Similar topics
Share this post on: Excite BookmarksDiggRedditDel.icio.usGoogleLiveSlashdotNetscapeTechnoratiStumbleUponNewsvineFurlYahooSmarking

JEBOLNYA SITU GINTUNG : VOLUME AIR MELEBIHI DAYA TAMPUNG :: Comments

Post on Sat 28 Mar 2009 - 9:02 by dayat

PENANGANAN DARURAT SITU GINTUNG MULAI DIKERJAKAN HARI INI



Departemen Pekerjaan Umum (PU) mulai melakukan perbaikan darurat kerusakan bendung Situ Gintung. Perbaikan tersebut dilakukan dengan menggunakan bronjong dan karung pasir. Sedangkan perbaikan permanen diperkirakan akan selesai dalam waktu satu tahun.

“Saat ini karung-karung pasir dan bronjong sudah ada di lapangan, upaya penanganan darurat akan mulai dilakukan hari ini juga,” ungkap Menteri PU Djoko Kirmanto kepada para wartawan usai melihat kondisi lapangan bendung Situ Gintung, Jumat (27/3) siang di Jakarta.

Meski tergolong bendung kecil, Djoko Kirmanto memperkirakan penanganan darurat bendung yang terletak di Ciputat, Tangerang itu akan memakan waktu cukup lama. Sementara rekonstruksi permanen akan dilakukan setelah proses desain ulangnya selesai.

“Minggu malam, saya undang expert-expert bendungan dari Jepang dan Pusat Litbang Air Departemen PU untuk membicarakan desain ulangnya. Diperkirakan hasil desainnya akan keluar dalam seminggu kedepan,” ucap Menteri PU.

Djoko Kirmanto juga menegaskan, tidak ada persoalan terkait dana penanganan darurat maupun permanen. Departemen PU mempunyai cukup dana untuk melakukan kedua hal tersebut.

Mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terjadi di lokasi bendung lainnya, Menteri PU menugaskan Tim Pengaman Bendung untuk mengevaluasi kondisi seluruh situ yang ada di kawasan Jabodetabek. Jumlah situ yang berada dikawasan tersebut mencapai lebih dari 200 buah.

Sementara Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWS-Cilicis), Pitoyo Subandrio dihadapan Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan, jebolnya tanggul Situ Gintung akibat bangunan tanggul yang dibangun sejak Pemerintahan Belanda tidak mampu menahan limpasan air situ yang diperkirakan mencapai 1,5 juta m3. Penyebab utama limpasan karena sejak Kamis Sore (26/3) curah hujan yang turun disekitar wilayah situ sangat deras.

"Saat hujan begitu besar, muka air menjadi naik dan menyebabkan limpasan hingga di atas tubuh bendung. Sehingga tergerus dan longsor. Tanggul manapun pasti akan jebol kalau terjadi pelimpasan," jelas Pitoyo.

Pitoyo menjelaskan, luas situ mencapai 21 hektar. Dan situ gintung ini masih masuk dalam pengawasan BBWS- Cilicis. Sementara itu Kepala Balai Wilayah Sungai Cidurian-Cisadane Provinsi Banten, Djoko Suryanto menjelaskan kalau keberadaan Situ Gintung pada tahun lalu (2008) termasuk dari 11 buah situ yang pernah direhabilitasi. Hanya saja, dalam skala kecil berupa perkuatan tepi situ, sebagai pengamanan dari longsor. Menurutnya, Situ Gintung ini sedikit berbeda dengan kebanyakan situ-situ yang ada di Jabodetabek.

Bedanya terletak pada, pada situ-situ lain tidak didesain untuk berfungsi sebagai bendungan, melainkan hanya tempat penampung air. Ditambahkan, diwilayah Banten terdapat 33 buah situ. Jumlah ini termasuk dari 200 buah situ yang ada di sekitar Jabodetabek.

Menurut Lina warga yang rumahnya hanya berjarak 9 meter dari pintu tanggul yang jebol menceritakan, suara gemuruh air sudah terdengar sekitar pukul 24.00 WIB. Dan sejak sore saat hujan deras terlihat rembesan –rembesan air dari Situ melalui dinding tanggul. (rnd/sony)

sumber : pu.go.id

Kembali Ke Atas Go down

Post on Sat 28 Mar 2009 - 9:37 by dayat

Akibat Human Error, Bukan Bencana Alam

Jakarta censor Musibah jebolnya tanggul Situ Gintung di Cireundeu, Tangerang Selatan, adalah akibat kelalaian pemerintah terhadap perawatan tanggul. Karena itu musibah ini tidak bisa disebut sebagai bencana alam.

"Ini tidak bisa dikatakan bencana alam karena bangunan itu dibangun manusia, bukan bangunan sim salabim yang tahu-tahu ada di situ. Jadi berada dalam kontrol manusia. Kalau longsorannya dari bukit mungkin bisa dikatakan bencana alam," ujar Ketua Tim Kajian Likuifaksi dan Sumber Daya Air Pusat Penelitian (Puslit) Geoteknologi LIPI Adrin Tohari saat dihubungi detikcom, Jumat (28/3/2009) malam.

Menurut Adrin, kesalahan itu ada pada jajaran pemerintah selaku pihak yang bertanggung jawab atas kondisi tanggul tersebut. Setidaknya ada 4 kelalaian pemerintah yang mengakibatkan musibah ini tak terhindarkan.

Pertama, tidak ada inspeksi rutin dari pemerintah terhadap tanggul yang sudah uzur tersebut. Jika inspeksi secara rutin dilakukan, idealnya 6 bulan sekali, pemerintah pasti punya data mengenai perkembangan tanggul.

"Seharusnya kalau sudah ada datanya di Dinas Tata Ruang, mereka aware bahwa tanggul ini umurnya sekian dan sudah melewati masa kinerjanya. Karena itu harus dilakukan upaya untuk mencegah bencana," tutur Adrin.

Kedua, pemerintah kurang merawat tanggul yang sudah tua tersebut. Pangkal mulanya adalah inspeksi yang tidak rutin dilaksanakan sehingga pemerintah tidak paham betul bagaimana dan bagian mana yang harus dirawat.

"Kalau pemerintah nggak punya informasi mengenai kekuatan tanggul, ya itu bisa menjadi suatu pukulan buat pemerintah. itu human error, Tapi kalau mereka tahu, dan belum ditangani, itu kesalahan pemerintah juga. Apapun bentuk kekurangan yang ada adalah kesalahan kita sebagai pemerintah" ucap Adrin.

Ketiga, kesalahan pemerintah terletak pada kurangnya peringatan terhadap warga atas potensi jebolnya tanggul. Padahal pemerintah selaku penanggung jawab wajib memberikan peringatan kepada warga.

Kesalahan keempat terletak pada pelanggaran tata ruang yang dilakukan pemerintah. Seharusnya lokasi pemukiman warga terdekat letaknya dari bangunan tanggul dan bantaran sungai berjarak 20 meter. Jika dipatuhi, tentu jumlah korban jiwa tidak sebesar sekarang.

"Di daerah tanggul seminimal mungkin ada pemukiman. Seharusnya itu adalah daerah bebas pemukiman, kira-kira sejauh puluhan meter dari tanggul. Itu ada Perda-nya, daerah bantaran harus bebas dari pemukiman," kata Adrin.

(sho/lh)

sumber : detiknews.com

Kembali Ke Atas Go down

Post Today at 10:51 by Sponsored content

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik