Forum LPJKD Kalimantan Barat
Terima kasih.....

Tunggu beberapa saat, proses login sedang berjalan....

Rumah Bongkar-Pasang : Pilih Bambu atau Kayu

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Rumah Bongkar-Pasang : Pilih Bambu atau Kayu

Post by dayat on Wed 31 Dec 2008 - 9:47

Rumah Bongkar-Pasang : Pilih Bambu atau Kayu



Material bangunan dari bambu dan kayu memang bukan hal baru. Namun, kalau berbentuk rumah yang utuh dan bisa dibongkar pasang, menarik, kan? Selain awet, rumah juga tahan gempa.

Kalau membayangkan rumah kayu, mungkin yang terlintas di benak adalah rumah-rumah country khas Amerika pada zaman koboi dulu. Bukan tidak mungkin, lho, Anda juga memiliki rumah kayu seperti itu di Indonesia. Tak perlu khawatir kayu akan keropos karena digerogoti rayap, berjamur, atau lapuk diterpa hujan dan terik matahari.

"Kayu besi sangat bagus untuk dijadikan bahan rumah kayu. Kayu jenis ini, makin sering terkena air, justru makin kuat, selain anti rayap dan jamur. Kayu-kayu yang dipakai untuk membuat dermaga juga kebanyakan kayu besi," ujar Rizky Masyani (50), pemilik usaha Rumah Kayu (RK).

Bisa desain sendiri

Rizky sudah mengenal rumah kayu sejak tahun 1995 lewat tayangan teve. Sejak melihat kelebihan rumah kayu, yang antara lain bisa dipindah-pindah lantaran pembuatannya menggunakan sistem bongkar pasang (knock down), Rizky tertarik. Tahun 2004, ia minta diantar temannya untuk melihat langsung rumah kayu ke tempat pembuatannya di Tomohon, Sulawesi.

Untuk mewujudkan keinginannya berbisnis rumah kayu, Rizky bekerja sama dengan salah satu produsen di sana. Namun, karena terhadang kendala, kerja sama itu berakhir. Tahun 2006, Rizky membuat usaha sendiri, sampai sekarang.

Dengan terjun langsung ke lapangan, ia jadi tahu proses produksi. Setelah ditebang, kayu dibuat balok berukuran besar, lalu digesek sesuai ukuran yang diinginkan. Untuk ukuran papan, diproses lagi untuk dijadikan lantai, rangka, dinding, dan sebagainya. Sebagian kayu ini ada yang dibuat di Tomohon, ada pula yang dibuat di lokasi calon rumah klien.
Ukuran rumah bisa dibuat sesuai pesanan klien, kendati RK menyediakan contoh-contoh rumah yang mereka buat dalam berbagai tipe. Model Saturnus misalnya, bertipe 80, sedangkan Merkurius bertipe 36. Kebanyakan, saat pertama datang, klien tidak membawa desain. Namun, ujar ayah 12 anak ini, "Tak masalah bila klien sudah punya desain sendiri."

Sesuai namanya, seluruh bagian rumah yang dibuat RK terbuat dari kayu. Kecuali atap yang terbuat dari genting. Lagi-lagi, kata Rizky, itu bukan keharusan. "Ada klien yang minta dibuatkan rumah dua tingkat, yang satu beton, yang satu kayu, ya, tak masalah buat kami."

Mirip Investasi

Setelah desain disetujui, barulah dilakukan persiapan pembangunannya. Kalau bangunannya terbuat full dari kayu, seluruh kayu dibuat di Tomohon. "Kalau campuran, dibuat di lokasi calon rumah. Pembuatan rumahnya sendiri memakan waktu 2-3 bulan," jelas Rizky yang juga menerima pengerjaan halaman dan taman sekaligus.

Soal harga, untuk saat ini Rp 2,75 juta/m2 untuk rumah full kayu yang berpapan single, dan Rp 3,5 juta/m2 untuk papan dobel. Papan single artinya dinding papan hanya menggunakan satu lapis kayu, sedangkan dobel menggunakan dua lapis untuk dinding papan untuk seluruh rumah sehingga rumah jadi lebih kedap suara.

Adapun untuk rumah campuran, harganya bisa lebih mahal, bisa juga sebaliknya. "Tergantung dari material yang digunakan untuk betonnya. Harga juga akan lebih mahal bila klien minta dibuatkan desain khusus."

Kebanyakan, tutur pria yang memiliki 50 pegawai ini, kliennya memesan rumah kayu untuk vila, kantor pemasaran perusahaan properti, kafe, hotel (tipe cottage), rumah tinggal, gazebo, bahkan mushola yang dibangun di terpisah dari rumah.

Rizky bersyukur, kesulitannya membangun kepercayaan konsumen saat pertama membuka usaha ini, kini terlewati. Padahal, sejak dulu ia tak pernah punya rumah contoh. "Saya hanya memperlihatkan foto-foto rumah yang sudah kami bangun dan contoh kayunya," ujarnya sambil menambahkan, dalam sebulan ia bisa mendapat 2-3 klien baru.

Klien RK berasal dari Jakarta, Bandung, Jawa Barat, Padang, bahkan ada pula dari Malaysia dan Australia, yang mengetahui RK lewat website-nya. Memiliki rumah kayu, menurut Rizky, sama saja dengan berinvestasi. Kayu besi bernilai investasi tinggi karena, makin lama, harganya makin mahal, seperti kayu jati./*

sumber : kompas

dayat
Kepala Tukang
Kepala Tukang

Male Jumlah posting: 283
Lokasi: Pontianak
Points: 367
Reputation: 14
Registration date: 02.10.08

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: Rumah Bongkar-Pasang : Pilih Bambu atau Kayu

Post by dayat on Wed 31 Dec 2008 - 10:00


Material bangunan dari bambu dan kayu memang bukan hal baru.
Tapi, kalau berbentuk rumah yang utuh dan bisa dibongkar pasang,
menarik, kan? Selain awet, juga tahan gempa.


Sampai umur 100 tahun, lanjut Rizky, kayu besi masih kuat. Hanya saja, kayu ini tidak berserat dan bertekstur seperti kayu jati. Ia mencontohkan, rumah kayu yang dibuatnya enam bulan silam untuk salah seorang klien, harga jualnya kini naik 10-20 persen.

Yang juga menjadi salah satu keuntungan memiliki rumah kayu, tutur Rizky, kayu yang digunakan menyerap panas. Jadi, meski matahari bersinar terik di luar, rumah tetap terasa adem, sedangkan ketika malam hari, rumah menjadi hangat.

Selain itu, rumah ini tahan gempa. "Kalau miring, bisa dibetulkan lagi. Kalau ingin pindah pun, bisa dicopot-copot. Tinggal panggil kami, nanti rumah akan kami bongkar semuanya, lalu diangkut, dan dibangun lagi di lokasi baru," ujarnya. Ia menambahkan, kayu-kayu dalam rumah ini mayoritas disambung tanpa paku, melainkan dengan baut.
Soal perawatan, menurut pria kelahiran Palembang ini, cukup mudah. Cukup dua tahun sekali rumah kayu dicat menggunakan cat transparan agar warna kayunya tetap terlihat. Lantai bisa dipel dengan menggunakan cairan pel seperti umumnya lantai keramik.

Direndam Lumpur

Selain kayu jati, kayu besi, dan kayu kelapa, bambu pun tak kalah menarik untuk dibentuk menjadi rumah atau gazebo. Bahkan, bagi sebagian orang, penggunaan bambu sebagai material akan semakin mengentalkan kesan tradisional.

Salah satu pembuat rumah bambu ini adalah M Soleh (29). Sejak 2002 lalu, ayah satu orang anak ini mulai merintis usahanya. "Awalnya, karena tahun 1997 krisis moneter, usaha jual-beli material batu milik saya tutup. Lalu saya mencoba usaha bambu. Dari situ usaha saya berkembang. Tak hanya menjual bambu saja, tapi juga bikin perabot dan lainnya," tutur pria asal Bogor ini.

Sebagai orang kampung, aku Soleh, ia sudah terbiasa memanfaatkan bambu. Untuk menghubungkan antara satu bambu dan bambu lain, menurut Soleh, tak bisa sembarangan. "Enggak cukup dengan paku. Paku dipakai hanya untuk sementara saja. Supaya sambungan kencang, harus diikat pakai ijuk atau rotan."

Teknik mengikat bambu, tuturnya, juga bermacam-macam dan tidak bisa sembarangan. Salah-salah, bangunan malah akan cepat rusak. "Ada berbentuk bintang, ngepang, ngunci, dan lain-lain. Supaya ahli, mengikat bambu itu perlu waktu bertahun-tahun. Saya saja harus belajar 5 tahun, tapi tetap sampai saat ini belum bisa menyebut diri saya ahli dalam mengikat. Enggak bisa sembarangan kalau mau hasilnya bagus," bebernya.

Kepada setiap pelanggannya, Soleh menjanjikan kualitas. Untuk itu ia tidak sembarangan memilih bahan dan memakan waktu. Mengapa? "Supaya awet alias tak mudah hancur sebelum digunakan, bambu harus direndam lumpur terlebih dahulu. Paling tidak, selama satu bulan. Tujuannya agar bambu keras, rayap jadi enggak doyan," tukas pria yang mendapatkan bahan bambu dari Serang dan Bogor itu.

Gazebo model kebaya

Selain itu, urusan mencari bahan yang bagus juga sedikit susah. Penebangan bambu yang akan digunakan pun sebaiknya mengikuti hari-hari tertentu. "Kalau kata orang tua, sih, bambu bagus yang umurnya sudah 5 tahun lebih. Ditebangnya juga harus di bulan Pekcun, tanggal 5, bulan 5 penanggalan bulan."

Padahal, kata Soleh, kalau bahan-bahannya sudah ada, pengerjaannya cuma sebentar. "Seperti kemarin ini, saya bikin rumah dari bambu ukuran 9 x 6 meter, 2 minggu sudah selesai."

Penggunaan material bambu, dikatakannya terhitung lebih murah dibanding menggunakan kayu jati atau kayu kelapa. "Harga per meter gazebo atau rumah dari bambu, mulai dari Rp 800.000 sampai Rp 1 juta lebih. Untuk furnitur bambu, saya jual mulai dari Rp 250.000 sampai Rp 2,5 juta. Hampir semua jenis perabot rumah tangga saya bisa buat," jelasnya berpromosi.

Harga semakin mahal jika desain barang semakin rumit dan perlu keahlian khusus. "Juga tergantung bentuk dan luas bangunan. Misalnya, apakah berbentuk gazebo seperti payung, model kebaya, joglo, atau lainnya. Lalu, apakah nanti akan dihias dengan ukiran atau tidak? Jadi, biar enak, sebelum mengerjakan pesanan, saya dan klien harus ngobrol dulu supaya tahu maunya apa."

Edwin F. Yusman,Hasuna Daylailatu
sumber : kompas

dayat
Kepala Tukang
Kepala Tukang

Male Jumlah posting: 283
Lokasi: Pontianak
Points: 367
Reputation: 14
Registration date: 02.10.08

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik